SYARIF HIDAYAT
Rabu, 29 Mei 2013
SUMANTRI GUGUR
MAKALAH
ILMU
SOSIAL BUDAYA DASAR
PENDIDIKAN
KARAKTER BANGSA MENURUT WAYANG SUMANTRI GUGUR
Di susun sebagai tugas mata kuliah
Ilmu Sosial Budaya Dasar
Dosen Pengampu : drs.
Heru Purwantoro

Di Susun Oleh :
DESI WIJAYANTI :
2012009017
SIGIT PRASTOWO : 2012009011
SYARIF HIDAYAT :
2012009025
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan
yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan
Makalah Pendidikan karakter bangsa menurut cerita wayang Sumantri gugur dengan
lancar. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Ilmu Sosial
Budaya Dasar. Makalah ini berisi tentang kisah hidup bambang sumantri hingga
gugur, melalui makalah ini di harapkan pembaca mendapatkan pengetahuan tentang kisah
hidup bambang sumantri dan juga mengetahui tentang pentingnya karakter dari
seorang sumantri bagi bangsa Indonesia.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada
dosen, orang tua, teman-teman serta
semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Yogyakarta, Mei 2013
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Melihat karakter yang ada
pada masyarakat saat ini sebagai contoh para pemuda saat ini tidak lagi
mementingkan perilaku sopan santun dan budi pekerti yang luhur sehingga mereka kurang akan motivasi dalam
hidup untuk menjadi seseorang yang berprestasi dalam kehidupannya.
Kita tahu bahwa masalah
karakter yang seperti itu maka perlu adanya pendidikan karakter bangsa yang bisa
mengubah pola hidup masyarakat bisa
termotivasi untuk menjadi manusia yang berkarakter dan berbudi luhur sehingga
akan mewujudkan prestasi-prestasi yang bagus bagi setiap manusia dalam rangka
membangun bangsa yang maju dan mempunyai nilai budi pekerti yang luhur.
B.
TUJUAN
MAKALAH
1. Memberikan
pengetahuan kepada masyarakat tentang pendidikan karakter yang ada dalam cerita
wayang.
2. Menjadikan
bangsa yang berkarakter lebih baik
seperti dalam tokoh cerita wayang tersebut.
C.
MANFAAT
Manfaat dari penulisan
makalah ini salah satunya adalah merupakan contoh seorang ksatria yang memiliki
karakter sopan santun, budi pekerti yang luhur serta mempunyai motivasi yang
besar untuk selalu berprestasi sehingga dengan demikian muncullah rasa
loyalitas mengabdi terhadap bangsanya
walaupun harus berkorban nyawa.
Karakter seperti itu hendaknya dapat di
tiru oleh setiap manusia dalam kehidupan bermasyarakat dalam rangka membaqngun
bangsa yang berkarakterseperti di atas.
BAB
II
SINOPSIS WAYANG SUMANTRI GUGUR
SINOPSIS WAYANG SUMANTRI GUGUR
Bambang Sumantri dan adiknya Bambang
Sukrasana sebenarnya adalah putra dari Resi Suwandagni, namun sejak kecil
diasuh oleh kakeknya yaitu Resi Wisanggeni di padepokan terpencil bernama Ardisekar.
Sumantri adalah seorang pemuda berparas menawan, sedangkan Sukasrana berbadan
kontet namun bermuka seperti raksasa. Meskipun demikian, kedua kakak beradik
ini amat menyayangi satu sama lain, serta memiliki perilaku yang santun dan
budi pekerti yang luhur. Baik Sumantri maupun Sukasrana banyak memperoleh
ajaran dan ilmu dari Resi Wisanggeni, sehingga mereka tumbuh menjadi dua anak
yg tangguh dan sakti.
Sumantri ambisius, ingin berprestasi dan
termotivasi untuk menjadi yang terbaik. Ciri-ciri ini biasanya dimiliki oleh
anak pertama, mereka biasanya lebih berprestasi di bidang akademis dibanding
adik-adiknya. Sedangkan Sukrasana, orangnya sederhana, tidak banyak motivasi
dalam hidupnya, dia hanya ingin hidup rukun dan damai dengan semua makhluk ciptaan
Tuhan. Ciri ini biasanya dimiliki oleh anak bungsu, mereka biasanya tidak
pandai dalam akademis namun pandai dalam bergaul (bersosialisasi). Meskipun
Sukrasana tidak terlalu berambisi dalam menuntut ilmu namun dia selalu
mendapatkannya dengan mudah berkat kemampuannya yang baik dalam berinteraksi
dan bergaul dengan semua mahluk ciptaan Tuhan tanpa melihat status sosial.
Di sisi lain, ternyata Sumantri memiliki
satu kekurangan, yaitu terlalu jaga image bila berinteraksi
dengan orang-orang berpangkat. Sumantri malu memperkenalkan adiknya,
Sukrasana yang ber-fisik jelek dan merupakan inti dari cerita ini.
Suatu ketika, Sumantri dan Sukrasana
sedang berjalan-jalan di dalam hutan. Sukrasana yang bertubuh kecil merasa
capek dan minta istirahat. Ketika beristirahat, Sukrasana akhirnya tertidur
pulas dan pada saat itu juga datanglah seorang raksasa lapar yang ingin memakan
Sumantri dan Sukrasana. Sumantri dengan sigap membopong adiknya yang tertidur
lelap dan melarikan diri ke dalam hutan. Setelah cukup jauh, Sukrasana
dibaringkan di tempat yang aman sementara Sumantri berusaha menghadang raksasa
tersebut. Walau bertarung sekuat tenaga, Sumantri tidak bisa mengalahkan
raksasa tersebut. Sumantri hampir kehabisan tenaga, namun tiba-tiba datang
Batara Indra (yaitu Dewa di terminologi Hindu, sedangkan Islam dan Kristen
mungkin istilahnya Malaikat) dan memberikan panah Cakrabiswara kepadanya.
Sumantri segera melepas anak panah itu ke arah sang raksasa dan akhirnya
raksasa itu mati.
Setelah berhasil membunuh raksasa,
Sumantri teringat akan adiknya dan dengan sedikit khawatir dan terburu-buru,
segera melihat keadaan Sukrasana. Sumantri sangat terkejut melihat
binatang-binatang buas di dalam hutan ternyata berkumpul di sekeliling
Sukrasana demi menjaga keselamatannya. Setelah Sukrasana terbangun, Sumantri
bertanya kepada adiknya, ajian apa yang dimiliki olehnya sehingga bisa
menguasai binatang-binatang buas. Sukrasana menjawab bahwa ia tidak memiliki
ajian apapun, hanya selama hidupnya dia tak pernah menganggu ataupun melukai
binatang-binatang sekecil apapun. Kedua bersaudara lalu kemudian pulang ke
padepokan untuk menceritakan kejadian ini kepada Resi Wisanggeni. Oleh sang resi
diceritakan bahwa orang yang memiliki Cakrabiswara merupakan kekasih Batara
Wisnu, sementara yang dilindungi binatang-binatang liar artinya adalah orang yang berbudi luhur
dan merupakan kekasih Batara Dharma.
Keinginan Sumantri untuk meninggalkan padepokan Ardisekar
Beberapa masa berlalu, suatu ketika,
Sumantri menyampaikan niatnya pada Resi Wisanggeni bahwa ia ingin mengamalkan
ilmunya dan dia meminta ijin kepada Resi Wisanggeni untuk meninggalkan
padepokan Ardisekar. Dengan berat hati Resi Wisanggeni memberi ijin, tapi
Sumantri diharuskan mengabdi di Negara Maespati yang diperintah Prabu Arjuna
Sasrabahu yang terkenal adil bijaksana. Sumantri juga sengaja tidak mengajak
Sukrasana karena takut dia akan akibat penampilan dan wajahnya yang buruk. Pada
suatu hari di pagi buta, dia memandang adiknya yang masih terlelap dengan penuh
rasa haru dan berkata “Maafkan aku adikku”, lalu dia tinggalkan Sukrasana
adiknya, bocah bajang yang buruk rupa itu dan berangkat menuju ke utara.
Ketika bangun, Sukrasana bingung karena
kakaknya telah menghilang. Sukrasana bertanya kepada Resi Wisanggeni ke mana
kakaknya menghilang. Ketika diberitahu perihal kepergian kakaknya, Sukrasana
tidak rela berpisah dengan kakaknya dan memutuskan untuk mencari kakaknya di
Maespati, negeri yang sangat jauh dan berangkat seorang diri.
Perjalanan Sukrasana mencari kakaknya
Dalam perjalanannya, Sukrasana yang
memiliki badan kuntet/pendek, cepat merasa kelelahan dan akhirnya berisitrahat
di sebuah pohon besar yang teduh. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara besar
dari dalam pohon itu. Suara itu berasal dari Candra Birawa (Jin/Makluk halus)
yang sudah lama menunggu kedatangan seseorang kekasih Betara Dharma supaya
dirinya bisa numpang ke dalam tubuh Sukrasana. Sukrasana menjadi bingung dan
ragu, lalu bertanya mengenai asal usul Candra Birawa. Candra Birawa pun
menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya diciptakan dari gabungan raksasa-raksasa
yang menyerang Swargaloka (Surga). Raksasa-raksasa itu punah dikalahkan oleh
para dewata (malaikat-malaikat) tapi oleh Betara Guru dihidupkan kembali
menjadi satu badan saja dan diberi nama Candra Birawa. Tapi Candra Birawa tidak
boleh sembarangan berkeliaran di mayapada (dunia fana), dia diharuskan bersatu
dengan kekasih Batara Dharma karena di tangan orang yang salah, Candra
Birawa bisa sangat berbahaya dan menimbulkan kekacauan di mayapada (dunia
fana).
Meski telah dijelaskan asal usulnya,
Sukrasana masih sangsi untuk memperbolehkan Candra Birawa masuk dan berdiam di
dalam tubuhnya. Candra Birawa kemudian menjelaskan bahwa jika Cakra Birawa
numpang ke tubuh Sukrasana, Sukrasana akan menjadi lebih sehat dan kuat, selain
itu jika dalam kesulitan Sukrasana tinggal singkep, lalu memanggil Candra
Birawa dan dirinya akan segera muncul untuk membantu. Dalam pertarungan, Candra
Birawa sangat sakti karena setiap tetes darahnya akan menjadi Candra Birawa
baru. Sukrasana pun setuju dan memperbolehkan Candra Birawa untuk masuk ke
dalam tubuhnya. Dalam hatinya, Sukrasana berpikir bahwa Candra Birawa ini lebih
cocok diberikan kepada kakaknya Sumantri, orang yg amat dicintainya yang
berkarir sebagai abdi negara yaitu kstaria / prajurit di negara Maespati. Dia
ingin memberikan Candra Birawa kepada kakaknya, bila telah berjumpa.
Perjalanan Sumantri untuk mengabdi di
negeri Maespati
Sesampainya di istana Maespati, Sumantri
menghadap prabu Arjuna Sasrabahu. Arjuna Sasrabahu akan menerima Sumantri jika
Sumantri sanggup untuk memboyong seorang putri Magada, Dewi Citrawati, untuk
menjadi permaisuri prabu Arjuna Sasrabahu. Sumantri-pun berangkat ke Istana
Magada. Sementara itu di Magada, keadaan sangat menegangkan, karena ada para
Raja dari 1000 negara, ingin melamar Dewi Citrawati.
Akhirnya prabu Citragada mengadakan
sayembara pertarungan antara raja atau utusan untuk memperebutkan Dewi
Citrawati. Dengan kesaktiannya, tanpa melibatkan para prajurit dari kedua belah
pihak, setelah melewati pertempuran yg sengit, akhirnya Sumantri dapat
menaklukkan Prabu Darmawisesa sekaligus para raja lainnya satu per-satu dan
memenuhi persyaratan perkawinan Dewi Citrawati berupa Putri Domas / pengiring
yg berjumlah 800 orang, dan berhak memboyong Dewi Citrawati dari Magada ke
Maespati.
Pengkhinatan Sumantri terhadap Prabu Arjuna Sasrabahu
Pengkhinatan Sumantri terhadap Prabu Arjuna Sasrabahu
Namun dalam perjalanan pulang sebelum
memasuki Maespati, Sumantri memerintahkan seluruh rombongan berhenti di
perbatasan dan mendirikan perkemahan. Mendadak timbul gagasan pada diri
Sumantri untuk membuktikan kesaktian Arjuna Sasrabahu. Tak seorangpun
mengetahui dengan pasti, apakah niat ini muncul dari sisi manusiawi seorang
lelaki yang dalam keadaan diselimuti rasa bangga berlebihan telah mengalahkan
sekian banyak raja yg sakti, atau terbersit rasa ingin menguasai seorang wanita
yg amat menawan yang sedang dalam genggamannya? Atau, sekedar menguji dan
mengukur kesaktian dirinya sebagai seorang yg baru saja turun dari padepokan di
pucuk gunung sana?
Yang jelas, Sumantri mengajukan
persyaratan lewat surat yg dikirim melalui seorang utusan kepada Prabu Arjuna
Sasrabahu agar menjemput sendiri Dewi Citrawati di perbatasan kota dengan cara
seorang satria, Disebutkan didalam suratnya “Hamba ingin Dewi Citrawati direbut
dengan peperangan layaknya seorang raja. Hamba berharap peperangan ini akan
meningkatkan pamor dan kewibawaan Sri Paduka, karena bukan saja disaksikan oleh
Dewi Citrawati dan sekalian para putri domas yang berjumlah 800 orang, tetapi
juga disaksikan para raja dari lebih seribu negara di luar sana”, demikian
antara lain isi surat Sumantri pada Prabu Arjuna Sasrabahu.
Surat yg disampaikan Bambang Sumantri kepada
Prabu Arjuna Sasrabahu agar menjemput sendiri Dewi Citrawati dengan cara
'merebut' dari Sumantri di perbatasan, ditanggapi Sasrabahu dengan kelapangan
dada. Akhirnya Prabu Arjuna Sasrabahu harus maju untuk bertarung dengan
Sumantri yg berhasil menyelesaikan tugasnya memboyong Dewi Citrawati dari Magada
beserta 800 Putri Domasnya.
Terjadilah pertarungan yg dahsyat antara
Prabu Arjuna Sasrabahu melawan Sumantri di lapangan maha luas yang terbentang
diantara pegunungan Salva dan Malawa, di perbatasan negara Maespati. Para
brahmana dan pujangga melukiskan, peperangan ini merupakan perang maha besar.
Sumantri bertanding cukup lama dengan Prabu Arjuna Sasrabahu dan selalu seri
sehingga pada akhirnya Sang Prabu Arjuna Sasrabahu bertiwikrama lalu berubah wujud
menjadi raksasa sebesar gunung anakan. Sumantri akhirnya menyerah dan dia
telah menemukan jati diri Prabu Arjuna Sasrabahu. Arjuna Sasrabahu adalah
titisan Dewa Wisnu, yang ia cari-cari selama ini. Sejak dahulu Sumantri
menginginkan bisa mengabdi pada titisan Dewa Wisnu.
Untuk menebus kesalahannya dan atas
permintaan permaisurinya, Dewi Citrawati, Prabu Arjuna Sasrabahu memerintahkan
Sumantri untuk memindahkan taman Sri Wedari yang berada di Swargaloka (Surga)
ke dalam negeri Maespati. Tanpa berpikir panjang, Sumantri mengiyakan
permintaan Dewi Citrawati itu. Kemudian Sumantri ditinggal sendirian oleh
Arjuna Sasrabahu dan rombongan Dewi Citrawati menuju istana Maespati.
Pertemuan Sumantri dengan adiknya, Sukrasana
Pertemuan Sumantri dengan adiknya, Sukrasana
Sumantri menjadi bingung, karena jangankan
memindahkan taman Sri Wedari, letaknya saja dia tidak tahu. Dalam keadaan
linglung, Sumantri bertemu dengan adiknya Sukrasana di tengah hutan yang juga
sedang mencari dirinya. Sumantri yang sedang sedih, kemudian bercerita bahwa
dia harus memenuhi persyaratan Prabu Arjuna Sasrabahu, memindahkan taman
Sriwedari ke negari Maespati bila pengabdiannya ingin diterima. Sukasrana
dengan senang hati berusaha menolong kakaknya, namun dengan syarat bahwa ia
diperbolehkan ikut dengan kakaknya di Maespati dan Sumantri-pun menyanggupi
keinginan adiknya.
Sukasrana lalu segera mencari tempat
bersemadi untuk memanggil Cakra Birawa yang ada di dalam tubuhnya. Tiba-tiba
Sukasrana tidak terlihat lagi dari pandangan Sumantri, Sumantri pun bergegas
kembali ke Maespati, Sesampai di Maespati, ternyata bertepatan datangnya taman
Sriwedari. Sumantri merasa lega, karena dengan bantuan adiknya, maka permintaan
prabu Arjuna Sasrabahu dapat dipenuhi. Prabu Arjuna Sasrabahu merasa heran,
sekaligus kagum, melihat keberhasilan Bambang Sumantri. Mengingat
jasa-jasanya, maka Bambang Sumantri diangkat menjadi Patih Kerajaan Maespati,
dengan gelar Patih Suwanda.
Pengkhinatan Sumantri terhadap adiknya, Sukrasana
Pengkhinatan Sumantri terhadap adiknya, Sukrasana
Sementara itu di taman, istri-istri
Arjuna Sasrabahu yaitu permaisuri dan para selir, melihat sesuatu yang
menakutkan. Maka Arjuna Sasrabahu meminta agar Sumantri yang sudah bergelar
Patih Suwanda untuk menyelesaikan masalah ini. Sumantri, terkejut ketika yang
menjadi pokok persoalan, ternyata adiknya sendiri, Bambang Sukrasana. Adiknya
lalu disuruh pergi dari taman Sri Wedari. Namun Sukasrana, tidak mau berpisah
lagi dengan Sumantri dan mempertanyakan janji yang pernah diucapkan kakaknya.
Sumantri menakut-nakuti adiknya, dengan
pura-pura akan memanah adiknya. Tetapi anak panah yang diarahkan kepada
adiknya, terlepas dan anak panahnya mengenai adiknya. Sukasrana sekarat dan
kemudian meninggal. Bambang Sumantri menangisi kematian adiknya. Arwah
sukrasana berbicara kepadanya bahwa Sumantri tidak akan masuk swargaloka
(surga), jika tidak dengan Sukrasana. Bambang Sumantri merasa menyesal dan
berdosa besar pada adiknya, Bambang Sukasrana.
Sumantri sebelum gugur dalam peperangan
Sumantri sebelum gugur dalam peperangan
Prabu Arjunasasrabahu adalah raja yang
sangat mencintai dan memanjakan istri-istrinya, terutama permaisuri Dewi
Citrawati. Apa saja yang menjadi keinginan Dewi Citrawati selalu berusaha untuk
dipenuhinya. Suatu ketika Dewi Citrawati menyampaikan satu keinginan yang
rasanya agak mustahil dapat terpenuhi oleh manusia lumrah di Mayapada. Dewi
Citrawati ingin mandi bersama para selir di sebuah sungai atau danau. Keinginan
yang aneh inipun berusaha di penuhi oleh Prabu Arjunasasrabahu. Dengan disertai
Patih Suwanda, dan dikawal beberapa ratus orang prajurit, Prabu Arjunasasrabahu
membawa Dewi Citrawati dan selir-selirnya lengkap dengan para dayangnya
masing-masing pergi ke sebuah dataran rendah, dimana ditengahnya mengalir
sebuah sungai. "Dinda Patih Suwanda (sebutan bagi seorang yang dicintai,
bisa adik, istri atau orang yang lebih muda), aku akan bertiwikrama tidur melintang
membendung aliran sungai agar tercipta danau buatan untuk tempat mandi dan
bercengkrama dinda Dewi Citrawati dan para selir. Selama aku tidur
bertiwikrama, keselamatan dinda Citrawati dan para garwa ampil, sepenuhnya aku
serahkan pada dinda Patih Suwanda." kata Sang Prabu.
Sasrabahu kemudian bertiwikrama, yaitu
mengubah tubuhnya menjadi rasaksa yg amat besar, tidur melintang membendung
aliran sebuah sungai. Dengan tubuh sebesar bukit dan panjang, dalam waktu tidak
terlalu lama, lembah itu berubah menjadi sebuah danau buatan yang sangat luas.
Dengan suka cita Dewi Citrawati terjun ke dalam air, diikuti oleh para selir
dan para dayang. Mereka berenang kesana-kemari, bercanda, bersuka cita penuh
kegembiraan dan gelak tawa. Pemandangan yg terjadi sungguh unik, di mana seribu
lebih wanita cantik menyatu saling bergerak tak karuan di dalam air yang
jernih, dengan berbagai tingkah polah menggemaskan.
Luapan air sungai yang terbendung,
semakin lama semakin meninggi, meluas, melebar menggenangi perbukitan dan daerah
sekitarnya. Mengalir deras ke daratan yang lebih rendah. Kejadian ini sama
sekali tak disadari oleh Prabu Arjunasasrabahu, karena ia dalam keadaan tidur
ber-Tiwikrama. Tak terduga luapan air bengawan yang berbalik arah ke arah hulu,
lalu melanda lembah dan perbukitan, melanda pula daerah perbukitan Janakya,
dimana Rahwana, raja Alengka beserta para hulubalangnya sedang membangun
pesanggrahan. Dalam sekejap, bangunan pesanggrahan Rahwana ludes dilanda air
bah. Kejadian tersebut menimbulkan kemarahan Rahwana. la segera menyuruh, abdi
kepercayaannya untuk mencari penyebab bencana itu. Dalam waktu singkat abdi
kepercayaan telah kembali dan melaporkan bahwa yang menyebabkan meluapnya
aliran sungai dan menghancurkan pesanggrahan adalah akibat ulah Prabu Arjunasasrabahu,
raja negara Maespati, yang bertiwikrama menjadi raksasa dan tidur melintang di
muara sungai.
Rahwanapun mencari tahu siapa gerangan
Arjuna Sasrabahu itu. Dari pamannya, ia mendengar perihal kesaktian Raja
Maespati itu. Ia juga menjadi tahu bahwa permaisuri dan para selir Sasrabahu
bukanlah wanita sembarangan, tetapi wanita-wanita cantik putri para raja
taklukan yang secara sukarela tunduk pada kekuasaan negara Maespati. Namun dari
kesemua para putri itu, yang kecantikannya paling menawan adalah sang
permaisuri, Dewi Citrawati. Dia adalah putri Magada yang pernah menjadi rebutan
ribuan raja karena diyakini sebagai titisan dari Batari Sri Widawati.
"Hemmm, kebetulan! Aku akan rebut
Dewi Citrawati dari tangan Arjunasasrabahu!" kata Rahwana lantang. la
kemudian memerintahkan para pungawanya untuk menyiapkan pasukan perang,
menggempur negara Maespati. Dengan sikap hati-hati Patih Prahasta berusaha
menasehati dan mengingatkan akan kesaktian Prabu Arjunasasrabahu dan patih
Suwanda (Sumantri) yang sulit tertandingi oleh lawan siapapun, termasuk Prabu
Rahwana sendiri. Namun Rahwana tetap kukuh dengan kemauannya. "Di jagad
raya ini tidak ada seorangpun titah yang dapat mengalahkan Rahwana. Inilah
janji Batara Siwa kepadaku!" kata Rahwana lantang.
Peperangan tak dapat dihindarkan dan
berlangsung dengan seru antara pasukan Alengka sebagai penyerang dan pasukan
Maespati yang berusaha mempertahankan kehormatan dan kedaulatan negaranya.
Korbanpun berjatuhan, bergelimpangan Ribuan raksasa dipihak Alengka dan ribuan
prajurit di pihak Maespati. Ketika banyak para senopati perang Alengka mati
dalam peperangan dan pasukan terdesak mundur, Rahwana akhirnya maju perang
sendiri menghadapi para senopati perang Maespati. Rahwana merubah wujud menjadi
raksasa sebesar bukit, berkepala sepuluh dan bertangan dua puluh yang
masing-masing tangannya memegang berbagai jenis senjata. Sepak terjang
Rahwana sangat menakutkan. Dalam sekejap ratusan prajurit Maespati menemui
ajaInya. Untuk menghadapi amukan dan sepak terjang Rahwana, beberapa raja yang
menjadi senopati perang Maespati mencoba menghadangnya. Namun bagaimanapun
saktinya mereka, mereka bukanlah tandingan Rahwana.
Menyaksikan hal itu, akhirnya Patih
Suwanda / Sumantri maju sendiri memimpin pasukan Maespati. Pasukan Maespati
bergerak cepat, memukul mundur dan memporak-porandakan pasukan Alengka. Sepak
terjang Patih Suwanda sangat tangkas. Tak satupun para Senopati perang Alengka,
baik Tumenggung Mintragna, Karadusana, Trimurda, juga patih Prahasta yang mampu
menandingi kesaktian Patih Suwanda. Mereka lari tunggang langgang menyelamatkan
diri. Beberapa putra Rahwana seperti Kuntalamea, Trigarda, Indrayaksa dan
Yaksadewa yang nekad berperang mati-matian melawan Patih Suwanda, akhirnya mati
juga di medan perang.
Pertarungan Sumantri dan Rahwana Raja
Alengkah
Sampai akhirnya Rahwana bertarung
langsung dengan Sumantri, berkali-kali Patih Suwanda berhasil memenggal putus
kepala Rahwana. Namun Rahwana selalu dapat hidup kembali dari kematian, dalam
sekejap, kepala yg tertebas dari tubuhnya langsung menyatu kembali. Hal ini
berkat Ajian Rawarontek, ajaran dan pemberian Prabu Danaraja, raja negara
Lokapala terdahulu yang masih kakak Rahwana satu ayah berlainan ibu, putra resi
Wisrawa.
Patih Suwanda mulai kehilangan akal dan
kesabaran menghadapi kesaktian Rahwana. Sementara itu di Sorgamaya, arwah
Sukasrana, adik Patih Suwanda/Sumantri, masih bergentayangan melihat
pertempuran tersebut. Ia melihat inilah saat yang tepat untuk ‘menjemput dan
mengajak’ kakaknya, agar arwah Sukrasana dan Kakaknya, Sumantri bisa masuk ke
Swargaloka bersamaan. Dengan cepat arwah Sukasrana menyatu hidup dalam taring
Rahwana. Perang tanding pun kembali berlangsung antara Patih Suwanda melawan
Rahwana. Patih Suwanda telah berketetapan hati hendak mencincang habis kepala
Rahwana agar tidak bisa hidup kembali. Karena itu tatkala kepala Rahwana lepas
dari lehernya terbabat senjata Cakra, Patih Suwanda segera memungut kepala
Rahwana. Tak terduga, saat ia memegang rambut kepala Rahwana, tanpa disadari
tubuh Rahwana menyatu kembali berkat daya kesaktian Aji Rawarontek. Begitu
kepalanya menggeliat dan membuka mata, berkat pengaruh arwah Sukasrana, tangan
Rahwana langsung mengangkat tubuh Patih Suwanda dan menggigit lehernya hingga
putus. Saat itu juga Patih Suwanda gugur. Arwahnya kemudian berdampingan dengan
arwah Sukasrana terbang menuju ke sorgaloka.
Mendapat laporan berita duka cita itu,
Sang Prabu Arjuna Sasrabahu segera bangun dari tidur dan tiwikramanya. Dalam
kemarahan besarnya, ia meminta para raja-raja pengikutnya untuk segera
mengumpulkan sisa-sisa laskar Maespati yang bercerai berai, dan dia sendiri
yang akan memimpin pasukan Maespati menghadapi Rahwana. Cerita ini saya akhiri
sampai disini saja karena sudah keluar dari konteks jalan hidup Bambang Sumantri.
Rahwana akhirnya dikalahkan Prabu Arjuna Sasrabahu namun tidak dibunuh dan
Rahwana berjanji tunduk pada negara Maespati. Hingga dalam masa yang sangat
lama, Prabu Arjuna Sasrabahu wafat, sepak terjang Rahwana kembali menjadi
cerita dalam kisah Ramayana.
BAB III
FUNGSI CERITA
FUNGSI CERITA
Melihat
dari cerita di atas bahwa dalam hal ini sangat di dominasi oleh nilai seni yang
tinggi dan banyak menyampaikan tentang ilmu-ilmu pendidikan yang terbentuk
dalam penokohan sehingga penyampaiannya lebih efektif dan lebih menyenangkan,
karena dengan pencitraan dalam cerita wayang ini bisa meningkatkan kemampuan
seseorang dalam melihatsuatu niai yang terkandung di dalamnya.
Sumantri
adalah seorang pemuda berparas menawan memiliki perilaku yang santun dan
budi pekerti yang luhur Sumantri juga ambisius, ingin berprestasi dan
termotivasi untuk menjadi yang terbaik.
Untuk
menyikapi hal-hal yang saat ini terjadi pada bangsa kita, maka hal pertama yang
harus terpikir adalah merubah karakter bangsa, karena karakter yang baik mampu
mengubah pola sifat dan perilaku positif yang di dasarkan pada kesadaran
pribadi seseorang itu sendiri. Cerita Sumantri gugur ini merupakan sebuah
inspirasi bagi sebuah bangsa untuk berkarakter (sebagaimana dalam cerita ini)
dalam kehidupan sehari-hari.
BAB IV
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Saat
ini wayang tidak hanya sebuah pementasan/sekadar tontonan biasa, namun Wayang
merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang mempunyai nilai-nilai luhur
yang tercermin dalam karakter para tokoh dalam penokohannya. Tidak hanya itu,
tetapi juga di gunakan dalam pendidikan yang berbasis kerohanian seperti pada
saat Sunan Kalijaga membawa ajaran agama Islam di tanah Jawa.
Dengan
demikian maka sudah seharusnya kita sebagai penerus bangsa menjaga kelestarian
seni kebudayaan wayang, karena dengan begitu akan menjadikan pendidikan
karakter bangsa kita ini semakin solid dan akan menjaga keharmonisan hubungan
antar manusia dalam bidang apupun tanpa memperhatikan latar belakang kehidupan
sosial masing-masing.
DAFTAR
PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)